Senin, 26 November 2012

Ranu Kumbolo





 Renung Rakum

Dipojok kereta ekonomi malam ini, tersirat wajah-wajah lelah pucat pasi atas pengorbanan dari kepuasan hati. Ya kami lah gerombolan serdadu yang katanya berusaha mendaki sang mahameru.
Mahameru, nama yangg terdengar kokoh menerjang langit-langit kota malang. Yang membuat kami tergopoh dalam gelap dan menarik nafas sengau kami, hingga meredam ego atas munafik dan kebiasan makna hidup.

Diiringi "derau dan kesalahan" saya termenung menatap ini.
Bahwa sesuatu yang sederhana ternyata lebih bermakna. Dan yang bermakna maka sederhana adanya. Karena rasa adalah kepuasan dan karena kami hormat akan jiwa2Nya.
Menghirup nafas anugrah, dalam waktu yang tak pasti. Selamanya cinta adalah segala. Melawan hati hanyalah nista dan kebodohan. Dengan kau, kita, mereka dan itu semua akan berjalan, tapi aku hanya akan berjalan dengan cintamu sayang.

Selamanya-selamanya.